tumblr_inline_nj17xv3KaI1rkw4x1
lifeofacopyright.tumblr.com

“Hak cipta itu apa?”

Sepenggal pertanyaan diatas tentu masih sering mampir ditelinga kita, terutama terkait hak cipta. Masyarakat Indonesia banyak yang belum mengetahahui perihal hak cipta, padahal mungkin masyarakat itu memiliki suatu hasil karya yang beredar luas dikalangan masyarakat, namun hak ciptanya mereka tak memilikinya.

Lalu apakah setiap orang yang menghasilkan suatu karya diwajibkan memiliki hak cipta? Seharusnya jawabannya adalah “ya”, mengapa? Jawabnya ada pada pengertian hak cipta itu sendiri,

Lalu apa hak cipta itu?

“yaa.. yang semacam hak yang diberikan kepada seorang pencipta yang menciptakan sesuatu yang secara umum nih berguna bagi masyarakat serta hak untuk melakukan apapun terhadap ciptaaannya itu..” (Adiputra Zulham)

“berupa kepemilikan atas nama seseorang atau kelompok, dilindungi hukum yang berlaku tentunya” (Nuril Anwar)

“Mutlak milik kita” (Agi Margi)

Menbaca beberapa jawaban diatas tentu kita tahu bahwa hak cipta itu mutlak hanya milik pencipta suatu karya. Dari penggalan jawaban diatas tentu saja hak cipta wajib dimiliki oleh masyarakat yang merasa memiliki karya. Karya yang telah memiliki Hak cipta atau Hek kekayaan dan Intelektual bukanlah barang remeh-temeh yang bisa dibagikan ke berbagai kalangan, bukan pula hal yang bisa dengan mudah kita buat salinannya, namun di negara kita sendiri khususnya Indonesia masih banyak masyarakat nya yang menggandakan atau membuat salinan suatau karya tersebut.

Lalu dipandang sebagai apa hak cipta di negara kita?

Pemanis? Atau mereka yang menggandakan karya itu tidak mengetahui tentang hak cipta?

Di Indonesia sendiri hak cipta menurut fungsi dan sifatnya telah tertuang dalam pasal 2 UU No.19 Tahun 2002 yang berbunyi “Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi pencipta atau pemegang hak cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.”

Dapat dilihat dari undang undang yang berlaku saat ini bahwa suatu karya hanya bisa digandakan oleh penciptanya atau bagi pemegang hak cipta tersebut, kita tidak bisa menggandakan suatu karya atas dasar keingian kita tanpa melihat dampak yang ditimbukkan akibat pengandaan secara illegal tersebut.

Namun perjalanan suatu karya dalam mendapatkan hak cipta juga tidak semata-mata langsung bisa, suatu karya harus didaftarkan terlebih dahulu barulah bisa memperoleh hak cipta. Namun hak cipta juga menimbulkan polemic tersendiri bagi pencipta suatu karya, hal ini berkaitan dengan royalti yang nantinya akan mereka dapatkan, misalnya sebuah buku, siapa yang akan mendaftarkan hak ciptanya apakah penulis atau penerbit? Jika penerbit yang memiliki hak cipta suatu buku, maka royalty nya akan jatuh sepenuhnya ketangan penerbit. Lalu bagaimana dengan penulisnya? Pihak penerbit telah membayar buku yang mereka daftarkan hak ciptanya tersebut. Penulis tetap mendapatkan uang, namun bukan royalti dari karya yang diciptakannya.

Yogyakarta, 10 Mei 2015.

22:23 WIB.